http://sosok.kompasiana.com/2012/08/16/prie-gs-public-figure-teladan-berbahasa-indonesia-yang-baik-486056.html
Pada tulisan saya terdahulu yang berjudul “Kebiasaan
Menyingkat Kata, Merusak Bahasa?” ada yang berkomentar bahwa penyingkatan kata
banyak terjadi karena batasan jumlah karakter ketika menulis di media sosial.
Ketika saya telusuri tweet para public figure, hampir semuanya menyingkat kata
agar pesan yang disampaikan muat dalam satu tweet. Namun tidak dengan “kicauan”
sosolk yang satu ini. Beliau adalah Prie GS. Prie GS yang banyak dikenal
sebagai budayawan dan penulis buku asal Semarang. Lihat saja profil di twitter
dengan nama akun @Prie_GS beliau menulis dirinya sebagai “Cartoonist, Writer,
Public Speaker, Radio & TV Host Semarang, Indonesia.” Beliau memiliki situs
pribadi yang bisa dikunjungi di http://www.priegs.com. Tulisan dan status
beliau juga bisa Anda simak di Profil Facebook-nya dengan nama akun Prie GS
Saya akan coba kutip beberapa “kicauan” beliau di Twitter.
Kenapa twiiter? Karena setiap tweet di Twitter maksimal hanya memuat 140
Karakter. Coba Anda simak, apa yang menarik dari tweet dari sosok yang saat
tulisan ini dimuat sudah memiliki followers sebanyak 29.152. Berikut beberapa
tweet beliau yang saya kutip :
Siang memang panas. Tapi kan sore akan datang.
Nasib itu plastis. Ia mengikuti watakmu.
Jangan kecil hati, karena luasan jagat raya saja bisa
tersimpan di dalam hati.
Semua hanya pinjaman. Termasuk diriku sendiri.
Permusuhan hanya terjadi kalau engkau layani.
Hemat itu mudah. Tapi mencegah agar tidak sama dengan kikir
itu yang susah.
Jangan kelebihan uang tapi kekurangan tidur.
Seberat beratnya bangun sahur masih berat pihak yang
membangunkan: istriku.
Jika aku lesu inilah yang kukatakan: ”Hey Prie GS, engkau
lebih kuat dari sekadar lapar dan lesu. Ayo salto!”
Breaking News: Sudah azan lohor.
Jurusku main catur masih sama, masih tak terkalahkan. Kalau
mau kalah obrak-abrik.
”Novel baru Kang Prie keren!” ”Lho sudah beli?” ”Pinjam
teman.”
Ini yang kucemaskan: jika kucingku tak pulang, putriku
murung panjang. Ayo pus, magrib sebentar lagi datang.
”Kang Prie sound untuk masjid yang bagus apa ya?” ”Seperti
yang dipakai konser Phil Collins itu saja. Cukup itu.”
”Kang Prie aku telat nonton Humor Sahur. Kepagian,”
protesmu.” ”Jangankan kamu, aku juga kok.”
Kubaca istilah baru: poligamer.
Negara yang sukses itu cuma memindah. Bukan menggusur. Tapi
tersukses adalah memindah saja tidak. Karena semua telah pada tempatnya.
Senang sekali melihat teman duduk di pesawat ini makan lahap
sekali. Pihak yang tak puasa memang harus dihormati.
(Sumber : http://chirpstory.com/li/16773)
Apa yang menarik buat saya?
1. Tidak ada kata-kata dalam tweet beliau yang disingkat.
Semua kata ditulis dengan lengkap.
2. Tanda baca dalam kalimat juga ditulis lengkap.
3. Kalimat dibuat singkat, dan padat dengan makna yang tetap
dalam.
Tentang isi pesannya, beliau selalu membuatnya dengan pesan
yang ringan bahkan cenderung humoris. Beliau tetap bebas berekspresi meski
dibatasi dengan julah karakter. Hebatnya, beliau tetap konsisten menerapkan
penulisan kata yang sempurna dalam “keterbatasan” tersebut. Tak salah kiranya
bila sebagian penggemarnya menjuluki beliau seorang jenius. Jenius karena mampu
merangkai kata-kata yang pendek, segar, bernuansa humor namun bermakna dalam.
Inilah yang membuat saya mengagumi beliau yang disebut-sebut
banyak orang sebagai “Sang Penggoda Indonesia”. Karya-karya beliau yang
menggelitik, kritikannya yang segar dan humoris dan ekspresinya yang bebas
namun penuh etika membuat saya sering mampir membaca posting beliau di dunia
maya.
Beliau, sebagai public figure sangat memahami bahwa setiap
gerak-geriknya bahkan status di jejaring sosial akan selalu dipantau oleh
banyak orang. Beliau memilih konsisten untuk berbahasa yang baik dan benar
walau teknologi membuat batasan-batasan.
Menurut saya, teknologi bukan alasan untuk mengobrak-abrik
bahasa dengan mengurangi huruf pada kata-kata yang dituliskan seseorang.
Seorang Prie GS menjadi teladan bagi kita bagaimana seorang public figure tetap
menjunjung keindahan Bahasa Indonesia di ruang public, bahkan dengan ruang yang
sangat terbatas.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar